Download REFERAT IMUNISASI (Autosaved) PDF

TitleREFERAT IMUNISASI (Autosaved)
File Size1.8 MB
Total Pages26
Document Text Contents
Page 13

KI Hipersensitivitas terhadap komponen vaksin dan imunodefisiensi

berat. Imunisasi perlu ditunda apabila ada demam atau

gastroenteritis akut
KIPI Demam, tinja berdarah, muntah, diare, gastroenteritis

4.3 Meales, Mumps, Rubella (MMR)

Penyakit gondong (Mumps) disebabkan oleh virus dari famili

Paramyxovirus. Penyebarannya melalui droplet. Gejala klinik meliputi

pembengkakan kelejar parotis dan gejala prodromal yang tidak spesifik. Rubela

terjadi karena infeksi virus rubela yang tergolong famili Togavirus. Penyebaran

melalui droplet. Gejala klinis berupa ruam makulo papular, pembengkakan

kelenjar retroauricular dan suboccipital. Bila ibu hamil terjangkit rubela maka

dapat terjadi rubela sindrom kongenital (SRK) yang menimbulkan katarak,

retinopati, mikroptalmia, dan tuli saraf, PDA, VSD ataupun disabilitas intelektual.

Tujuan utama imunisasi rubela adalah mencegah SRK. Vaksin harus disimpan

pada suhu 2–80C atau lebih dingin dan terlindung dari cahaya.Vaksin harus

digunakan dalam waktu 1 (satu) jam setelah dicampur dengan pelarutnya, tetap

sejuk dan terhindar dari cahaya, karena setelah dicampur vaksin sangat tidak stabil

dan cepat kehilangan potensinya pada temperatur kamar.

Isi Vaksin Virus hidup yang dilemahkan
Jadwal Apabila sudah mendapatkan vaksin campak pada usia 9 bulan,

maka vaksin MMR/MR diberikan pada usia 15 bulan (minimal

interval 6 bulan). Apabila pada usia 12 bulan belum

mendapatkan vaksin campak, maka dapat diberikan vaksin

MMR/MR
Dosis 0,5 mL
Tempat Subkutan dalam atau intramuskular
KI Riwayat anafilaksis, menderit penyakit keganasan,

imunodefisiensi, pengeobatan imunosupresif, wanita hamil, pada

individu yang mendapat imunoglobulin atau transfusi whole

blood
KIPI Demam biasanya timbul setelah 7-12 hari dan berlangsung 1-2

Page 14

hari, kejang demam, ensefalitis dengan insidens <1:1000.000

dosis

4.4 Tifoid

Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella thypi yang ditularkan melalui

mulut dari makanan atau minuman yang terkontaminasi. Gejala klinik meliputi

gambaran klasik demam terutama malam hari, stepwise pattern, dan remiten,

gangguan pencernaan berupa diare atau konstipasi, dan gejala ssp seperti sakit

kepala. Terdapat 2 jenis vaksin yaitu tifoid oral dan polisakarida parenteral.

Vaksin tifoid oral Dibuat dari kuman Salmonella typhi galur non patogen yang

telahdilemahkan, menimbulkan respon imun sekretorik IgA, mempunyaireaksi

samping yang lebih rendah dibandingkan vaksin parenteral.Kemasan dalam

bentuk kapsul. Penyimpanan pada suhu 2 – 8 C. Vaksin oral tidak boleh diberikan

bersama antibiotik yang aktif terhadap Salmonella.

Isi Vaksin Polisakarida salmonella thypi
Jadwal Diberikan mulai usia 2 tahun dan diulang tiap 3 tahun
Dosis Oral: 1 kapsul dimakan tiap hari pada hari ke 1,3 dan 5

Parenteral: 0,5 mL
Tempat Intramuskuler dalam, subkutan paha atau deltoid
KI Hipersensitivitas komponen vaksin, demam saat penyutikan.
KIPI Demam, nyeri kepala, pusing. Kadang bisa terjadi ruam, pruritus,

dan urtikaria

4.5 Hepatitis A

Vaksin ini merupakan vaksin perlindungan terhadap virus RNA Hepatitis

A golongan picorna virus.

Isi Vaksin Virus hepatitis A
Jadwal Diberikan mulai usia 2 tahun diberikan 2 kali dengan interval 6-

12 bulan
Dosis 0,5 mL
Tempat Intramuskuler dalam
KI Anafilaksis setelah vaksin dosis pertama
KIPI Demam terjadi pada 5% kasus

Page 26

DAFTAR PUSTAKA

Center for Disease Control and Prevention. 2011. Principles of Vaccination.Dalam
Atkinson W, Hamborsky J, Wolfe S.
https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/prinvac.pdf
[diakses tanggal 3 Mei 2017].

Center for Disease Control and Prevention. 2011. Immunization the Basic. Dalam
Atkinson W, Hamborsky J, Wolfe Shttps://www.cdc.gov/vaccines/vac-
gen/imz-basics.htm [diakses tanggal 3 Mei 2017].

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Artikel.
http://www.depkes.go.id/article/print/17020100001/ini-rencana-
pelaksanaan-3-vaksinasi-baru-untuk-lengkapi-imunisasi-
dasar-.html[diakses tanggal 5 Mei 2017]

Sujatmiko, Gunardi, Sekartini, dan Medise. 2015. Intisari Imunisasi. Edisi 2.
Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Satgas Imunisasi PP IDAI. 2014. Panduan Imunisasi Anak. Edisi 1. Jakarta:
Kompas.

WHO. 2017. Imunization Facts Sheethttp://www.who.int/mediacentre/
factsheets/fs286/en/[diakses tanggal 3 Mei 2017]

http://www.who.int/mediacentre/%20factsheets/fs286/en/
http://www.who.int/mediacentre/%20factsheets/fs286/en/
http://www.depkes.go.id/article/print/17020100001/ini-rencana-pelaksanaan-3-vaksinasi-baru-untuk-lengkapi-imunisasi-dasar-.html
http://www.depkes.go.id/article/print/17020100001/ini-rencana-pelaksanaan-3-vaksinasi-baru-untuk-lengkapi-imunisasi-dasar-.html
http://www.depkes.go.id/article/print/17020100001/ini-rencana-pelaksanaan-3-vaksinasi-baru-untuk-lengkapi-imunisasi-dasar-.html
https://www.cdc.gov/vaccines/vac-
https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/

Similer Documents