Download Radiologi Orthopaedi PDF

TitleRadiologi Orthopaedi
File Size406.9 KB
Total Pages24
Document Text Contents
Page 2

2


saja akan membuat peningkatan tekanan intraosseus sehingga terjadi rasa nyeri luar biasa dan

menetap.

Jika bakteri menyebar melalui pembuluh darah maka akan terjadi bakteremia,

septikemia dengan gejala anoreksia, malaise, dan demam. Bakteri yang biasanya bersarang

dalam spongiosa metafisis dapat pula menyebar secara lokal dengan cara penetrasi korteks di

daerah metafisis ke arah periosteum dan terjadi subperiosteal abses yang menyebar ke arah

sepanjang shaft tulang lalu merusak sirkulasi sehingga terjadilah nekrosis tulang dan

membentuk pus. Pus meluas di bawah periosteum dan pada tempat-tempat tertentu membentuk

fokus sekunder. Nekrosis tulang yang timbul dapat luas dan terbentuk sekwester (sequester:

tulang mati). Bila arteri nutrisia mengalami trombosis maka dapat menimbulkan sekwestrasi

tulang yang luas. Periosteum yang terangkat oleh pus kemudian akan membentuk tulang di

bawahnya, yang dikenal sebagai reaksi periosteal. Juga di dalam tulang itu sendiri dibentuk

tulang baru, baik pada trabekula maupun korteks, sehingga tulang terlihat lebih opak dan

dikenal sebagai sklerosis. Tulang yang dibentuk di bawah periosteum ini membentuk bungkus

bagi tulang yang lama disebut involukrum (involucrum). Involukrum ini pada berbagai tempat

terdapat lubang tempat pus keluar, yang disebut kloaka.

Bila pada foto pertama belum terlihat kelainan tulang, sedangkan klinis dicurigai

osteomielitis, sebaiknya foto diulang kira-kira 1 minggu kemudian. Kelainan tulang yang

terjadi pada foto roentgen biasanya baru dapat dilihat kira-kira 10 sampai 14 hari setelah

infeksi. Sebelumnya mungkin hanya dapat dilihat pembengkakan jaringan lunak saja.

Perubahan-perubahan pada tulang anak-anak lebih cepat terlihat.

Seringkali reaksi periosteal yang terlihat lebih dahulu, baru kemudian terlihat daerah

berdensitas lebih rendah pada tulang yang menunjukkan adanya destruksi tulang, dan disebut

rarefaksi. Gambaran tulang selanjutnya bergantung pada terapi yang diberikan. Bila terapi

adekuat, proses akan menyembuh dan yang terlihat pada foto mungkin hanya berupa reaksi

periosteal dan sklerosis. Bila terapi terlambat atau tidak adekuat, maka gambaran radiologik

akan memperlihatkan proses patologik seperti yang telah diuraikan dan menjadi osteomielitis

kronis. Pada septikemia yang tidak diobati angka kematian 25% dari kasus acute

hematogenous osteomyelitis.

Diagnosis banding

Gambaran radiologik untuk osteomielitis dapat menyerupai tumor ganas primer tulang

(osteosarkoma dan Ewing’s sarkoma) karena dijumpai destruksi tulang, reaski periosteal,

pembentukan tulang baru, dan pembengkakan jaringan lunak.

Page 24

24


5) Dislokasi Cubitti

6) Fraktur Montega: fraktur ulna bagian proximal dan disertai dislokasi caput radii

7) Fraktur antebrachi: tulang radius dan ulna keduanya fraktur. Dapat terjadi di bagian

proximal, medius, distal.

8) Fraktur Galleazi: fraktur radius bagian distal disertai dislokasi radio ulna joint bagian

distal.

9) Fraktur Colle: fraktur radius satu inchi dari sendi pergelangan tangan fragmen distal

displacement ke postero lateral, bisa disertai atau tidak fraktur procecus styloideus ulna.

Terjadi “ Dinnerfork – Deformity” (garpu makan malam).

10) Fraktur Smith: fraktur radius distal satu inchi dari sendi pergelangan tangan, fragmen

distal displacement ke anterior.

11) Fraktur Bennet: fraktur basis mecarpal satu.

12) Fraktur Boxer: fraktur dari neck metacarpal ke lima.

13) Fraktur Mallet: ujung jari berbentuk seperti kepala burung (flexi distal interphalangeal

joint), ini karena terjadi avulsi dari tendon extensor atau ruptur tendon extensor jari

yang bersangkutan.

14) Fraktur tulang skafoid: sering garis fraktur tidak terlihat pada foto pertama sehingga

diperlukan foto berikutnya setelah 2 minggu.

15) Fraktur metacarpal dan fraktur phalanx

16) Fraktur femur: dapat terjadi banyak perdarahan bahkan sampai dua liter. Bisa terjadi

shock, dan emboli lemak. Fraktur dapat terjadi pada collum femoris, trochanter

mayor/minor, diafisis, supracondiler, dan condiler.

17) Fraktur patela, cruris, ankle, metatarsal, dan phalanx.



DAFTAR PUSTAKA

Palmer, P. E. S., dkk. 1995. Petunjuk Membaca Foto untuk Dokter Umum. Jakarta: EGC.

Rasad, Sjahriar, dkk. 2010. Radiologi Diagnostik Sjahriar Rasad Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit

FKUI.

Rasjad, Chairuddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi Edisi 2. Makassar: Penerbit Bintang

Lamumpatue.

Similer Documents