Download Penatalaksanaan Tetanus.pdf PDF

TitlePenatalaksanaan Tetanus.pdf
File Size136.3 KB
Total Pages5
Document Text Contents
Page 1

823

CONTINUING PROFESSIONAL DEVELOPMENT

CDK-222/ vol. 41 no. 11, th. 2014

PENDAHULUAN
Sampai saat ini tetanus masih merupakan
masalah kesehatan masyarakat signifi kan di
negara berkembang karena akses program
imunisasi yang buruk, juga penatalaksana-
an tetanus modern membutuhkan fasilitas
intensive care unit (ICU) yang jarang tersedia
di sebagian besar populasi penderita tetanus
berat.1 Di negara berkembang, mortalitas
tetanus melebihi 50% dengan perkiraan
jumlah kematian 800.000-1.000.000 orang
per tahun, sebagian besar pada neonatus.2,3
Kematian tetanus neonatus diperkirakan
sebesar 248.000 kematian per tahun.1 Di
bagian Neurologi RS Hasan Sadikin Bandung,
dilaporkan 156 kasus tetanus pada tahun
1999-2000 dengan mortalitas 35,2%. Pada
sebuah penelitian retrospektif tahun 2003-
Oktober 2004 di RS Sanglah didapatkan 54
kasus tetanus dengan mortalitas 47%.4

Tetanus adalah penyakit yang dapat dicegah.
Implementasi imunisasi tetanus global

ABSTRAK
Tetanus masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang karena akses program imunisasi yang buruk serta fasilitas
intensive care unit (ICU) yang tidak selalu tersedia. Ada tiga sasaran penatalaksanaan tetanus: (1) membuang sumber tetanospasmin;
(2) netralisasi toksin yang tidak terikat; (3) perawatan penunjang (suportif ) sampai tetanospasmin yang berikatan dengan jaringan habis
dimetabolisme. Sebagian besar kasus membutuhkan 4-6 minggu pengobatan suportif di ICU. Keberhasilan terapi suportif akan menentukan
outcome, di samping faktor beratnya penyakit.

Kata Kunci: Intensive care unit, tatalaksana, tetanus

ABSTRACT
Tetanus is still an important health issue in developing countries because of poor immunization programme and the poor availability
of intensive care unit (ICU) facility. Three goals of tetanus management are: (1) eradication of tetanospasmin source; (2) unbound toxin
neutralization; (3) supportive care until tissue-bound tetanospasmin has completely been metabolized. Most cases take 4-6 weeks of
supportive care in ICU. The quality of supportive care determine the outcome, in addition the severity of disease. Ni Komang Saraswita
Laksmi. Management of Tetanus.

Keywords: Intensive care unit, management, tetanus

Akreditasi PP IAI–2 SKP

Penatalaksanaan Tetanus
Ni Komang Saraswita Laksmi
Puskesmas Mendoyo I, Bali, Indonesia

Alamat korespondensi email: [email protected]

telah menjadi target WHO sejak tahun 1974.
Sayang imunitas terhadap tetanus tidak
berlangsung seumur hidup dan dibutuhkan
injeksi booster jika seseorang mengalami
luka yang rentan terinfeksi tetanus. Akses
program imunisasi yang buruk dilaporkan
menyebabkan tingginya prevalensi penyakit
ini di negara sedang berkembang.3

DEFINISI
Tetanus adalah penyakit infeksi akut di-
sebabkan eksotoksin yang dihasilkan
oleh Clostridium tetani, ditandai dengan
peningkatan kekakuan umum dan kejang-
kejang otot rangka.4

PATOFISIOLOGI
Tetanus disebabkan oleh eksotoksin
Clostridium tetani, bakteri bersifat obligat
anaerob. Bakteri ini terdapat di mana-mana,
mampu bertahan di berbagai lingkungan
ekstrim dalam periode lama karena sporanya
sangat kuat. Clostridium tetani telah diisolasi

dari tanah, debu jalan, feses manusia
dan binatang. Bakteri tersebut biasanya
memasuki tubuh setelah kontaminasi pada
abrasi kulit, luka tusuk minor, atau ujung
potongan umbilikus pada neonatus; pada
20% kasus, mungkin tidak ditemukan tempat
masuknya. Bakteri juga dapat masuk melalui
ulkus kulit, abses, gangren, luka bakar, infeksi
gigi, tindik telinga, injeksi atau setelah
pembedahan abdominal/pelvis, persalinan
dan aborsi. Jika organisme ini berada pada
lingkungan anaerob yang sesuai untuk
pertumbuhan sporanya, akan berkembang
biak dan menghasilkan toksin tetanospasmin
dan tetanolysin. Tetanospasmin adalah
neurotoksin poten yang bertanggungjawab
terhadap manifestasi klinis tetanus, sedang-
kan tetanolysin sedikit memiliki efek klinis.1-3

Terdapat dua mekanisme yang dapat
menerangkan penyebaran toksin ke susunan
saraf pusat: (1) Toksin diabsorpsi di neuro-
muscular junction, kemudian bermigrasi

CONTINUING MEDICAL EDUCATIONCONTINUING PROFESSIONAL DEVELOPMENT

Page 2

824

CONTINUING PROFESSIONAL DEVELOPMENT

CDK-222/ vol. 41 no. 11, th. 2014

melalui jaringan perineural ke susunan saraf
pusat, (2) Toksin melalui pembuluh limfe dan
darah ke susunan saraf pusat. Masih belum
jelas mana yang lebih penting, mungkin
keduanya terlibat.4

Pada mekanisme pertama, toksin yang
berikatan pada neuromuscular junction
lebih memilih menyebar melalui saraf
motorik, selanjutnya secara transinaptik
ke saraf motorik dan otonom yang
berdekatan, kemudian ditransport secara
retrograd menuju sistem saraf pusat.1,3
Tetanospasmin yang merupakan zinc-
dependent endopeptidase memecah vesicle-
associated membrane protein II (VAMP II atau
synaptobrevin) pada suatu ikatan peptida
tunggal. Molekul ini penting untuk pelepasan
neurotransmiter di sinaps, sehingga pe-
mecahan ini mengganggu transmisi sinaps.
Toksin awalnya mempengaruhi jalur inhibisi,
mencegah pelepasan glisin dan γ-amino
butyric acid (GABA). Pada saat interneuron
menghambat motor neuron alpha juga
terkena pengaruhnya, terjadi kegagalan
menghambat refl eks motorik sehingga
muncul aktivitas saraf motorik tak terkendali,
mengakibatkan peningkatan tonus dan
rigiditas otot berupa spasme otot yang
tiba-tiba dan potensial merusak. Hal ini
merupakan karakteristik tetanus. Otot wajah
terkena paling awal karena jalur axonalnya
pendek, sedangkan neuron-neuron simpatis
terkena paling akhir, mungkin akibat aksi
toksin di batang otak. Pada tetanus berat,
gagalnya penghambatan aktivitas otonom
menyebabkan hilangnya kontrol otonom,
aktivitas simpatis yang berlebihan dan
peningkatan kadar katekolamin. Ikatan neu-
ronal toksin sifatnya irreversibel, pemulihan
membutuhkan tumbuhnya terminal saraf
yang baru, sehingga memanjangkan durasi
penyakit ini.1,3

GEJALA KLINIS
Periode inkubasi tetanus antara 3-21 hari
(rata-rata 7 hari). Pada 80-90% penderita,
gejala muncul 1-2 minggu setelah ter-
infeksi.3 Selang waktu sejak munculnya
gejala pertama sampai terjadinya spasme
pertama disebut periode onset. Periode
onset maupun periode inkubasi secara
signifi kan menentukan prognosis. Makin
singkat (periode onset <48 jam dan periode
inkubasi <7 hari) menunjukkan makin berat
penyakitnya.1

kadang cukup untuk mengakibatkan ruptur
otot spontan dan hematoma intramuskular.
Fraktur kompresi atau subluksasi vertebra
dapat terjadi, biasanya pada vertebra-
thorakalis.5 Gagal ginjal akut merupakan
komplikasi tetanus yang dapat dikenali
akibat dehidrasi, rhabdomiolisis karena
spasme, dan gangguan otonom. Komplikasi
lain meliputi atelektasis, penumonia aspirasi,
ulkus peptikum, retensi urine, infeksi traktus
urinarius, ulkus dekubitus, thrombosis vena,
dan thromboemboli.1

DIAGNOSIS
Diagnosis tetanus adalah murni diagnosis
klinis berdasarkan riwayat penyakit dan
temuan saat pemeriksaan. Pada pemeriksaan
fi sik dapat dilakukan uji spatula, dilakukan
dengan menyentuh dinding posterior
faring menggunakan alat dengan ujung
yang lembut dan steril. Hasil tes positif jika
terjadi kontraksi rahang involunter (meng-
gigit spatula) dan hasil negatif berupa refl eks
muntah. Laporan singkat The American
Journal of Tropical Medicine and Hygiene
menyatakan bahwa uji spatula memiliki
spesifi sitas tinggi (tidak ada hasil positif palsu)
dan sensitivitas tinggi (94% pasien terinfeksi
menunjukkan hasil positif ). Pemeriksaan
darah dan cairan cerebrospinal biasanya
normal. Kultur C. tetani dari luka sangat sulit
(hanya 30% positif ), dan hasil kultur positif
mendukung diagnosis, bukan konfi rmasi.4

Beberapa keadaan yang dapat disingkir-
kan dengan pemeriksaan cermat adalah
meningitis, perdarahan subarachnoid, infeksi
orofacial serta arthralgia temporomandibular
yang menyebabkan trismus, keracunan
strychnine, tetani hipokalsemia, histeri,
encefalitis, terapi phenotiazine, serum sickness,
epilepsi dan rabies.4

PENATALAKSANAAN
Ada tiga sasaran penatalaksanaan tetanus,
yakni: (1) membuang sumber tetanospasmin;
(2) menetralisasi toksin yang tidak terikat;
(3) perawatan penunjang (suportif ) sampai
tetanospasmin yang berikatan dengan
jaringan telah habis dimetabolisme.4,5,7-14

Membuang Sumber Tetanospasmin
Luka harus dibersihkan secara menyeluruh
dan didebridement untuk mengurangi
muatan bakteri dan mencegah pelepasan
toksin lebih lanjut.1,3,5 Antibiotika diberikan

Tetanus memiliki gambaran klinis dengan
ciri khas trias rigiditas otot, spasme otot,
dan ketidakstabilan otonom. Gejala awalnya
meliputi kekakuan otot, lebih dahulu pada
kelompok otot dengan jalur neuronal pendek,
karena itu yang tampak pada lebih dari 90%
kasus saat masuk rumah sakit adalah trismus,
kaku leher, dan nyeri punggung. Keterlibatan
otot-otot wajah dan faringeal menimbulkan
ciri khas risus sardonicus, sakit tenggorokan,
dan disfagia. Peningkatan tonus otot-
otot trunkal meng akibatkan opistotonus.
Kelompok otot yang berdekatan dengan
tempat infeksi sering terlibat, menghasilkan
penampakan tidak simetris.1,3,6,7

Spasme otot muncul spontan, juga dapat
diprovokasi oleh stimulus fi sik, visual, auditori,
atau emosional. Spasme otot menimbulkan
nyeri dan dapat menyebabkan ruptur tendon,
dislokasi sendi serta patah tulang. Spasme
laring dapat terjadi segera, mengakibatkan
obstruksi saluran nafas atas akut dan respira-
tory arrest. Pernapasan juga dapat terpengaruh
akibat spasme yang melibatkan otot-otot
dada; selama spasme yang memanjang,
dapat terjadi hipoventilasi berat dan apnea
yang mengancam nyawa.3,6 Tanpa fasilitas
ventilasi mekanik, gagal nafas akibat spasme
otot adalah penyebab kematian paling sering.
Hipoksia biasanya terjadi pada tetanus akibat
spasme atau kesulitan membersihkan sekresi
bronkial yang berlebihan dan aspirasi. Spasme
otot paling berat terjadi selama minggu
pertama dan kedua, dan dapat berlangsung
selama 3 sampai 4 minggu, setelah itu rigiditas
masih terjadi sampai beberapa minggu lagi.1

Tetanus berat berkaitan dengan hiperkinesia
sirkulasi, terutama bila spasme otot tidak
terkontrol baik. Gangguan otonom biasanya
mulai beberapa hari setelah spasme dan
berlangsung 1-2 minggu. Meningkatnya tonus
simpatis biasanya dominan menyebabkan
periode vasokonstriksi, takikardia dan hiper-
tensi. Autonomic storm berkaitan dengan
peningkatan kadar katekolamin. Keadaan
ini silih berganti dengan episode hipotensi,
bradikardia dan asistole yang tiba-tiba.
Gambaran gangguan otonom lain meliputi
salivasi, berkeringat, meningkatnya sekresi
bronkus, hiperpireksia, stasis lambung dan
ileus.1,3

Pada keadaan berat dapat timbul berbagai
komplikasi. Intensitas spasme paroksismal

Page 3

825

CONTINUING PROFESSIONAL DEVELOPMENT

CDK-222/ vol. 41 no. 11, th. 2014

untuk mengeradikasi bakteri, sedangkan
efek untuk tujuan pencegahan tetanus
secara klinis adalah minimal. Pada pe-
nelitian di Indonesia, metronidazole telah
menjadi terapi pilihan di beberapa pelayanan
kesehatan. Metronidazole diberikan secara iv
dengan dosis inisial 15 mg/kgBB dilanjutkan
dosis 30 mg/kgBB/hari setiap 6 jam selama
7-10 hari. Metronidazole efektif mengurangi
jumlah kuman C. tetani bentuk vegetatif.
Sebagai lini kedua dapat diberikan penicillin
procain 50.000-100.000 U/kgBB/hari selama
7-10 hari, jika hipersensitif terhadap penicillin
dapat diberi tetracycline 50 mg/kgBB/hari
(untuk anak berumur lebih dari 8 tahun).
Penicillin membunuh bentuk vegetatif C.
tetani. Sampai saat ini, pemberian penicillin G
100.000 U/kgBB/hari iv, setiap 6 jam selama
10 hari direkomendasikan pada semua kasus
tetanus. Sebuah penelitian menyatakan
bahwa penicillin mungkin berperan sebagai
agonis terhadap tetanospasmin dengan
menghambat pelepasan asam aminobutirat
gama (GABA).3-5,12

Netralisasi toksin yang tidak terikat
Antitoksin harus diberikan untuk menetral-
kan toksin-toksin yang belum berikatan.
Setelah evaluasi awal, human tetanus
immunoglobulin (HTIG) segera diinjeksikan
intramuskuler dengan dosis total 3.000-
10.000 unit, dibagi tiga dosis yang sama dan
diinjeksikan di tiga tempat berbeda. Tidak ada
konsensus dosis tepat HTIG. Rekomendasi
British National Formulary adalah 5.000-
10.000 unit intravena. Untuk bayi, dosisnya
adalah 500 IU intramuskular dosis tunggal.
Sebagian dosis diberikan secara infi ltrasi di
tempat sekitar luka; hanya dibutuhkan sekali
pengobatan karena waktu paruhnya 25-30
hari. Makin cepat pengobatan diberikan, makin
efektif. Kontraindikasi HTIG adalah riwayat
hipersensitivitas terhadap imunoglobulin
atau komponen human immunoglobulin
sebelumnya; trombositopenia berat atau
keadaan koagulasi lain yang dapat
merupakan kontraindikasi pemberian
intra muskular. Bila tidak tersedia maka
digunakan ATS dengan dosis 100.000-
200.000 unit diberikan 50.000 unit intra-
muskular dan 50.000 unit intravena pada hari
pertama, kemudian 60.000 unit dan 40.000
unit intramuskuler masing-masing pada
hari kedua dan ketiga.1,4,5 Setelah penderita
sembuh, sebelum keluar rumah sakit harus
diberi immunisasi aktif dengan toksoid,

karena seseorang yang sudah sembuh dari
tetanus tidak memiliki kekebalan.1,3,5

Pengobatan suportif
Penatalaksanaan lebih lanjut terdiri dari
terapi suportif sampai efek toksin yang telah
terikat habis. Semua pasien yang dicurigai
tetanus sebaiknya ditangani di ICU agar
bisa diobservasi secara kontinu. Untuk
meminimalkan risiko spasme paroksismal
yang dipresipitasi stimulus ekstrinsik, pasien
sebaiknya dirawat di ruangan gelap dan
tenang.3-5,12 Pasien diposisikan agar men-
cegah pneumonia aspirasi. Cairan intravena
harus diberikan, pemeriksaan elektrolit serta
analisis gas darah penting sebagai penuntun
terapi.5

Penanganan jalan napas merupakan
prioritas. Spasme otot, spasme laring,
aspirasi, atau dosis besar sedatif semuanya
dapat mengganggu respirasi. Sekresi bronkus
yang berlebihan memerlukan tindakan
suctioning yang sering.1 Trakeostomi dituju-
kan untuk menjaga jalan nafas terutama jika
ada opistotonus dan keterlibatan otot-otot
punggung, dada, atau distres pernapasan.6
Kematian akibat spasme laring mendadak,
paralisis diafragma, dan kontraksi otot
respirasi tidak adekuat sering terjadi jika tidak
tersedia akses ventilator.3

Spasme otot dan rigiditas diatasi secara
efektif dengan sedasi. Pasien tersedasi lebih
sedikit dipengaruhi oleh stimulus perifer
dan kecil kemungkinannya mengalami
spasme otot.5 Diazepam efektif mengatasi
spasme dan hipertonisitas tanpa menekan
pusat kortikal. Dosis diazepam yang di-
rekomendasikan adalah 0,1-0,3 mg/kgBB/
kali dengan interval 2-4 jam sesuai gejala
klinis, dosis yang direkomendasikan untuk
usia <2 tahun adalah 8 mg/kgBB/hari oral
dalam dosis 2-3 mg setiap 3 jam. Spasme
harus segera dihentikan dengan diazepam
5 mg per rektal untuk berat badan <10 kg
dan 10 mg per rektal untuk anak dengan
berat badan ≥10 kg, atau diazepam intravena
untuk anak 0,3 mg/kgBB/kali. Setelah spasme
berhenti, pemberian diazepam dilanjutkan
dengan dosis rumatan sesuai keadaan
klinis. Alternatif lain, untuk bayi (tetanus
neonatorum) diberikan dosis awitan 0,1-0,2
mg/kgBB iv untuk menghilangkan spasme
akut, diikuti infus tetesan tetap 15-40 mg/
kgBB/hari. Setelah 5-7 hari dosis diazepam

diturunkan bertahap 5-10 mg/hari dan dapat
diberikan melalui pipa orogastrik. Dosis
maksimal adalah 40 mg/kgBB/hari. Tanda
klinis membaik bila tidak dijumpai spasme
spontan, badan masih kaku, kesadaran
membaik (tidak koma), tidak dijumpai
gangguan pernapasan.1,10,13,14 Tambahan efek
sedasi bisa didapat dari barbiturate khusus-
nya phenobarbital dan phenotiazine seperti
chlorpromazine, penggunaannya dapat
menguntungkan pasien dengan gangguan
otonom.1,3 Phenobarbital diberikan dengan
dosis 120-200 mg intravena, dan diazepam
dapat ditambahkan terpisah dengan dosis
sampai 120 mg/hari. Chlorpromazine di-
berikan setiap 4-8 jam dengan dosis dari
4-12 mg bagi bayi sampai 50-150 mg bagi
dewasa.5,10 Morphine bisa memiliki efek sama
dan biasanya digunakan sebagai tambahan
sedasi benzodiazepine.

Jika spasme tidak cukup terkontrol de ngan
benzodiazepine, dapat dipilih pelumpuh
otot nondepolarisasi dengan intermittent
positive-pressure ventilation (IPPV ).
Tidak ada data perbandingan obat-obat
pelumpuh otot pada tetanus, rekomendasi
didapatkan dari laporan kasus. Pancuronium
harus dihindari karena efek samping simpa-
tomimetik.1 Atracurium dapat sebagai pilihan.
Vecuronium juga telah digunakan karena
stabil pada jantung.3,10,14 Pasien tetanus
berat sering kali membutuhkan IPPV selama
2 hingga 3 minggu sampai spasme mereda.
Insiden ventilator-associated pneumonia
pada pasien-pasien tetanus sebesar
52,6%.1 Infeksi nosokomial umum terjadi
karena lamanya perjalanan penyakit tetanus
dan masih merupakan penyebab penting
kematian. Pencegahan komplikasi respirasi
meliputi perawatan mulut sangat teliti,
fi sioterapi dada dan suction trakea. Sedasi
adekuat selama prosedur invasif mencegah
provokasi spasme atau ketidakstabilan
otonom.3,6,7,10

Instabilitas otonom terjadi beberapa hari
setelah onset spasme umum dan fatality
ratenya 11-28%. Manifestasi berupa hiper-
tensi labil, takikardia, dan demam. Berbagai
gangguan kardiovaskular seperti disritmia
dan infark miokard serta kolaps sirkulasi
sering menyebabkan kematian.6,7,11 Tanda
overaktivitas simpatis yaitu takikardia
fl uktuatif, hipertensi yang kadang diikuti
hipotensi, pucat dan berkeringat sering

Page 4

826

CONTINUING PROFESSIONAL DEVELOPMENT

CDK-222/ vol. 41 no. 11, th. 2014

tampak beberapa hari setelah onset spasme
otot.5,10 Henti jantung tiba-tiba umum
terjadi dan dikatakan dapat dipresipitasi
oleh kombinasi kadar katekolamin yang
tinggi dan kerja langsung toksin tetanus
pada miokardium. Aktivitas simpatis yang
memanjang dapat berakhir dengan hipotensi
dan bradikardi. Aktivitas parasimpatis ber-
lebihan dapat menyebabkan sinus arrest, di-
katakan karena kerusakan langsung nukleus
vagus oleh toksin tetanus.3,6,7 Instabilitas
otonom sulit diobati. Fluktuasi tekanan darah
membutuhkan obat-obat dengan waktu
paruh singkat. Terapi konvensional terdiri
dari sedasi dalam sebagai terapi lini pertama,
menggunakan benzodiazepine dosis besar,
morphine, dan/atau chlorpromazine.1 Saat
ini, magnesium sulfat intravena dicoba
untuk mengendalikan spasme dan disfungsi
otonom; dosis loading 5 g (atau 75 mg/
kg) IV dilanjutkan 1 sampai 3 g/jam sampai
spasme terkontrol telah digunakan untuk
mendapatkan konsentrasi serum 2 sampai
4 mmol/L. Untuk menghindari overdosis,
dimonitor refl ek patella.7,13 Beta blocker dapat
menyebabkan hipotensi berat. Episode
hipotensi yang tidak membaik dengan
penambahan volume intravaskular mem-
butuhkan inotropik.1 Atropin dosis tinggi,
lebih dari 100 mg/jam, telah dianjurkan pada
keadaan bradikardia.3 Tidak ada regimen
terapi yang dipercaya efektif secara universal
untuk instabilitas otonom.11

Tetanus terbukti secara klinis dan biokimia
menyebabkan aktivitas simpatis berlebihan
dan katabolisme protein sehingga peme-
liharaan nutrisi sangat diperlukan. Nutrisi
buruk dan penurunan berat badan terjadi
cepat karena disfagia, gangguan fungsi
gastrointestinal dan peningkatan meta-
bolisme, menurunkan daya tahan tubuh
sehingga memperburuk prognosis..3,13 Nutrisi
parenteral total mengandung glukosa
hipertonis dan insulin dalam jumlah cukup
untuk mengendalikan kadar gula darah,
dapat menekan katabolisme protein. Formula
asam amino sangat membantu membatasi
katabolisme protein.5,12 Pada hari pertama
perlu pemberian cairan secara intravena
sekaligus pemberian obat-obatan, dan bila
sampai hari ke-3 infus belum dapat dilepas
sebaiknya dipertimbangkan pemberian
nutrisi secara parenteral. Setelah spasme
mereda dapat dipasang sonde lambung
untuk makanan dan obat-obatan dengan

Tabel 1 Severitas Tetanus Berdasarkan Klasifi kasi Ablett3,6-9

Grade 1 (ringan)
Trismus ringan, spastisitas menyeluruh, tidak ada
yang membahayakan respirasi, tidak ada spasme,
tidak ada disfagia

Grade 2 (sedang)
Trismus sedang, rigiditas, spasme singkat, disfagia
ringan, keterlibatan respirasi sedang, frekuensi
pernapasan >30

Grade 3 (berat)
Trismus berat, rigiditas menyeluruh, spasme
memanjang, disfagia berat, serangan apneu, denyut
nadi >120, frekuensi pernapasan >40

Grade 4 (sangat berat)
Grade 3 dengan ketidakstabilan otonom berat

Tabel 3 Dakar score10

Faktor
prognosis

Dakar score

Score 1 Score 0

Periode inkubasi <7 hari ≥7 hari atau tidak diketahui

Periode onset <2 hari ≥2 hari

Tempat masuk
Umbilikus, luka bakar, uterus, fraktur terbuka,

luka operasi, injeksi intramuskular
Selain dari yang telah disebut,

atau tidak diketahui

Spasme Ada Tidak ada

Demam >38,4˚C <38,4˚C

Takikardi
Dewasa >120 kali/menit

Neonatus >150 kali/menit
Dewasa <120 kali/menit

Neonatus <150 kali/menit

dengan mortalitas >50%.10

Outcome tetanus tergantung berat penyakit
dan fasilitas pengobatan yang tersedia.
Jika tidak diobati, mortalitasnya lebih dari
60% dan lebih tinggi pada neonatus. Di
fasilitas yang baik, angka mortalitasnya
13% sampai 25%. Hanya sedikit penelitian
jangka panjang pada pasien yang berhasil
selamat. Pemulihan tetanus cenderung
lambat namun sering sembuh sempurna,
beberapa pasien mengalami abnormalitas
elektroensefalografi yang menetap dan
gangguan keseimbangan, berbicara, dan
memori.1,2 Dukungan psikologis sebaiknya
tidak dilupakan.3

perhatian khusus pada risiko aspirasi.5,12

Emboli paru juga merupakan salah satu
penyebab kematian, sehingga banyak di-
gunakan antikoagulan secara rutin seperti
heparin subkutan; risiko thromboemboli
dan perdarahan harus dipertimbangkan.
Gerakan pasif harus terus diberikan jika di-
gunakan pelumpuh otot.5,12

LUARAN
Terdapat beberapa sistem penilaian tetanus.
Skala yang diusulkan Ablett adalah yang
paling banyak digunakan (Tabel 1).

Selain skoring Ablett, terdapat sistem skoring
untuk menilai prognosis tetanus seperti
Phillips score dan Dakar score. Kedua sistem
skoring ini memasukkan kriteria periode
inkubasi dan periode onset, begitu pula
manifestasi neurologis dan kardiak. Phillips
score juga memasukkan status imunisasi
pasien. Phillips score <9, severitas ringan; 9-18,
severitas sedang; dan >18, severitas berat.
Dakar score 0-1, severitas ringan dengan
mortalitas 10%; 2-3, severitas sedang dengan
mortalitas 10-20%; 4, severitas berat dengan
mortalitas 20-40%; 5-6, severitas sangat berat

Tabel 2 Phillips score4,10

Faktor Skor

Masa Inkubasi
• <48 jam
• 2-5 hari
• 5-10 hari
• 10-14 hari
• >14 hari

5
4
3
2
1

Lokasi infeksi
• Organ dalam dan umbilikus
• Kepala, leher, dan badan
• Perifer proksimal
• Perifer distal
• Tidak diketahui

5
4
3
2
1

Status proteksi
• Tidak ada
• Mungkin ada atau imunisasi

pada ibu bagi pasien-pasien
neonatus

• Terlindungi >10 tahun
• Terlindungi <10 tahun
• Proteksi lengkap

10

8

4
2

0

Faktor-faktor komplikasi
• Cedera atau penyakit yang

mengancam nyawa
• Cedera berat atau penyakit

yang tidak segera mengancam
nyawa

• Ciedera atau penyakit yang
tidak mengancam nyawa

• Cedera atau penyakit minor
• ASA grade I

10

8

4

2

0

Similer Documents