Download Agama Dan Ilmu Pengetahuan PDF

TitleAgama Dan Ilmu Pengetahuan
File Size286.0 KB
Total Pages17
Document Text Contents
Page 9

supranatural (wahyu). Inilah sebabnya mengapa akal semata tidak begitu berpengaruh pada

manusia, sementara agama selalu meninggikan derajat orang dan mengubah masyarakat.

Percayalah, Eropa dewasa ini paling merintangi jalan kemajuan akhlak manusia.

Sebaliknya, dasar dari gagasan-gagasan tinggi kaum Muslim ini adalah wahyu. Wahyu ini,

yang berbicara dari lubuk hati kehidupan yang paling dalam, menginternalisasi (menjadikan

dirinya sebagai bagian dari karakter manusia dengan cara manusia mempelajarinya atau

menerimanya secara tak sadar—pen.) aspek-aspek lahiriahnya sendiri. Bagi kaum Muslim,

basis spiritual dari kehidupan merupakan masalah keyakinan. Demi keyakinan inilah

seorang Muslim yang kurang tercerahkan pun dapat mempertaruhkan jiwanya.

“Reconstruction of Religious Thought in Islam” (Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam

Islam).

Will Durant, penulis terkenal “History of Civilization” (Sejarah Peradaban), meskipun

dia bukan orang yang religius, berkata:

“Beda dunia kuno atau dunia purba dengan dunia mesin baru hanya pada sarana, bukan

pada tujuan. Bagaimana menurut Anda jika ternyata ciri pokok seluruh kemajuan kita

adalah peningkatan metode dan sarana, bukan perbaikan tujuan dan sasaran?”

Dia juga mengatakan: “Harta itu membosankan, akal dan kearifan hanyalah sebuah cahaya

redup yang dingin. Hanya dengan cintalah, kelembutan yang tak terlukiskan dapat

menghangatkan hati.”

Kini kurang lebih disadari bahwa saintisisme (murni pendidikan ilmiah) tidak mencetak

manusia seutuhnya. Saintisisme melahirkan setengah manusia. Pendidikan seperti ini hanya

menghasilkan bahan baku untuk manusia, bukan manusia jadi. Yang dapat dihasilkan

pendidikan seperti ini adalah manusia unilateral, sehat dan kuat, namun bukan manusia

multilateral dan bajik. Semua orang kini menyadari bahwa zaman murni ilmu pengetahuan

sudah berakhir. Masyarakat sekarang terancam dengan terjadinya kekosongan idealistis.

Sebagian orang bemiaksud mengisi kekosongan ini dengan murni filsafat, sebagian lainnya

merujuk kepada sastra, seni dan ilmu-ilmu humanitarian

Di negeri Iran ada usulan agar kekosongan tersebut diisi dengan sastra yang penuh

kebajikan, khususnya sastra sufi karya Maulawi, Sa’di dan Hafiz. Para pendukung rencana

ini lupa bahwa sastra ini sendiri mendapat ilham dan agama dan dan semangat agama yang

penuh kebajikan, semangat yang menjadikan agama menarik perhatian, yaitu semangat

Islam. Kalau tidak, mengapa sastra modern, meski ada klaim lantang bahwa sastra modern

itu humanistis, begitu hambar, tak ada roh dan daya tariknya. Sesungguhnya kandungan

manusiawi dalam sastra sufi kami, merupakan hasil dan konsepsi Islami sastra tersebut

Similer Documents