Download 04_Buku_TeknologiBetonLanjt_Ed2.pdf PDF

Title04_Buku_TeknologiBetonLanjt_Ed2.pdf
File Size1.8 MB
Total Pages88
Document Text Contents
Page 44

TEKNOLOGI BETON LANJUTAN

DURABILITAS BETON

38



dan ground balsatic pumice (GBP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa

pengurangan panas hidrasi dicapai oleh spesimen dengan butir yang lebih

kasar dengan volume bahan tambah sebesar 30% dengan nilai Blaine

sebesar 2800 + 30 cm
2
/g. Dengan panas hidrasi yang rendah ini maka

beton dengan campuran ground granulated-blast furnace slag (GGBF)

dan ground balsatic pumice (GBP) dapat digunakan untuk konstruksi

beton massa.

Hasil penelitian (Susilorini, 2003; Susilorini, et. al, 2002; Pramono

dan Wibowo, 2002; Setiawan dan Purnomo, 2002 dalam [6])

menunjukkan bahwa trass Muria Kudus dapat dimanfaatkan sebagai

agregat alternatif untuk menggantikan agregat halus pasir Muntilan

dalam campuran beton dengan komposisi tertentu. Uji laboratorium

menunjukkan bahwa kandungan SiO2 pada trass Muria Kudus yang

digunakan dalam penelitian tersebut adalah sebesar 42,02%, sedangkan

kandungan Al2O3 adalah sebesar 28,08%. Perbandingan volume (1:2:3)

untuk (semen:trass Muria Kudus:split) adalah perbandingan campuran

beton yang optimal untuk kinerja kuat tekan, kuat tarik-belah, maupun

modulus elastisitas. Secara keseluruhan, beton dengan agregat halus

trass Muria Kudus menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan

beton normal, terutama untuk kinerja kuat tarik-belah yang mencapai

nilai 70% lebih tinggi dibandingkan beton normal. Hasil pengujian kuat

tekan dan kuat tarik-belah (Pramono dan Wibowo, 2002; Susilorini, et.

al., 2002; Susilorini, 2003 dalam [6]) menunjukkan bahwa kuat tekan

optimal dicapai beton dengan campuran Trass Muria Kudus sebesar

Page 45

BAB 3 BAHAN TAMBAH

39



29,802 MPa yang melebihi syarat kuat rencana (19 MPa). Di samping itu,

modulus elastisitas beton dengan campuran Trass Muria Kudus memiliki

nilai yang lebih tinggi dibandingkan beton normal (Setiawan dan

Purnomo, 2002; Susilorini, et. al., 2002; Susilorini, 2003 dalam [6]).

Penelitian bahan tambah (admixture) berbasis gula untuk

campuran beton dengan memanfaatkan sukrosa, gula pasir, dan larutan

tebu dapat dijelaskan sebagai berikut. Bahan tambah diaplikasikan pada

campuran beton dengan tujuan meningkatkan beberapa sifat dan kinerja

beton. Bahan tambah pemercepat (accelerator), menurut ASTM tipe C,

maupun pemerlambat (retarder), menurut ASTM tipe D, secara khusus

dikaji dalam penelitian Susilorini [7, 8]. Bahan tambah pemercepat

digunakan untuk mempercepat waktu pengikatan semen dan pengerasan

beton sedangkan bahan tambah pemerlambat digunakan untuk tujuan

sebaliknya. Dosis bahan tambah pemerlambat yang umum digunakan

dalam campuran beton berkisar antara 0.03%-0.15% dari berat semen

(Jayakumaranma, 2005 dalam [6]), sedangkan dosis di atas 0.25% dari

berat semen akan menimbulkan percepatan pengikatan semen yang

signifikan.

Penelitian-penelitan terdahulu (Susilorini, 2009; Susilorini, et. al.,

2008; 2009; Etmawati and Yuwono, 2008; Ganis and Nugraha, 2008;

Nikodemus and Setiawan, 2008; Syaefudin and Nugraha, 2008; Birru and

Windya, 2009; Aprilia and Maulana, 2009 dalam [7, 8]) membuktikan

bahwa pada dosis tertentu gula dapat mempercepat atau justru

memperlambat waktu pengikatan semen dan pengerasan beton serta

Page 88

TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON

82



Hibah Kompetensi, Tahun Pertama, Ditjen Dikti, DP2M, LPPM, Unika

Soegijapranata, Semarang.

[28] Susilorini, Retno, M.I. Rr. dan Sambowo, Kusno Adi. (2010).

Pemanfaatan Material Lokal unttk Teknologi Beton Ramah Lingkungan

yang Berkelanjutan, Laporan Akhir, Hibah Kompetensi, Tahun Kedua,

Ditjen Dikti, DP2M, LPPM, Unika Soegijapranata, Semarang.

[29] Susilorini, Retno, M.I. Rr., Sambowo, Kusno Adi, dan Santosa, Budi.

(2011). Pemanfaatan Material Lokal unttk Teknologi Beton Ramah

Lingkungan yang Berkelanjutan, Laporan Akhir, Hibah Kompetensi, Tahun

Ketiga, Ditjen Dikti, DP2M, LPPM, Unika Soegijapranata, Semarang.

[30] Young, JF. (1968). “The Influence of Sugar on the Hydration of

Tricalcium Aluminate”. Proceeding the Fith International Symposium on

the Chemistry of Cement, 256-267.

[31] Neville, AM. (1999). Properties of Concrete, Fourth and Final Edition,

Pearson Education Limited, England.

[32] Susilorini, Rr. M.I. Retno., Sambowo, Kusno Adi., Purwanto, Hendro

dan Apriando P, Proylin. (2011). “Compressive Strength of Mortar with

Sugar Based Admixture Exposed to Seawater”, Proceedings of The 12th

International Conference on QIR (Quality of Research), Faculty of

Engineering, University of Indonesia, pp. 2176-2178.

Similer Documents